Tatkala orang bersajak tentang senja dan hujan
Aku masih berkutik dengan mu dan merejan
Apa peduli ku pada jingga kemilau senja?
Dan apa urusan ku dengan bulir sejuk hujan?
Kini kau sudah punya duniamu sendiri
Telah kau bangun sendiri apa yang seharusnya menjadi milik kita
Maaf bila hanya lahan dalam jurang yang telah ku sodorkan
Maaf bila bunga yang ingin kau petik terlambat mekar
Tapi masih kah ada aku untukmu?
Masih ingatkah kalimat ajaib itu?
Kalimat yang membuat ku percaya bahwa masih ada harapan untuk ku?
"Kamu itu rumah aku, tau."
Itu kalimat penahanku
Walau setengah dekade ini aku telah menjadi rumah tanpa penghuni
Sapardi berkata
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana."
Namun kamu terlalu istimewa untuk ku cintai dengan sederhana
Namun bila W.S Rendra menulis surat cinta
Maafkan aku yang hanya dapat menyiratkannya.
Aku masih berkutik dengan mu dan merejan
Apa peduli ku pada jingga kemilau senja?
Dan apa urusan ku dengan bulir sejuk hujan?
Kini kau sudah punya duniamu sendiri
Telah kau bangun sendiri apa yang seharusnya menjadi milik kita
Maaf bila hanya lahan dalam jurang yang telah ku sodorkan
Maaf bila bunga yang ingin kau petik terlambat mekar
Tapi masih kah ada aku untukmu?
Masih ingatkah kalimat ajaib itu?
Kalimat yang membuat ku percaya bahwa masih ada harapan untuk ku?
"Kamu itu rumah aku, tau."
Itu kalimat penahanku
Walau setengah dekade ini aku telah menjadi rumah tanpa penghuni
Sapardi berkata
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana."
Namun kamu terlalu istimewa untuk ku cintai dengan sederhana
Namun bila W.S Rendra menulis surat cinta
Maafkan aku yang hanya dapat menyiratkannya.

0 Comments: